PRESIDEN Venezuela Nicolas Maduro mengatakan dirinya semakin bertekad kuat setelah berhasil menyelamatkan diri dalam serangan ledakan drone kala dia dirinya berpidato di parade militer di Caracas.

Pihak pemerintah mengatakan sebanyak tujuh prajurit terluka dalam serangan pada Sabtu (4/8) waktu setempat. Maduro juga sempat menyalahkan Kolombia atas serangan tersebut yang kemudian diakui oleh pihak pemberontak.

“Saya baik-baik saja, saya masih hidup, dan setelah serangan ini saya lebih kuat dari pada sebelumnya untuk mengikuti jalur revolusi ini,” kata Maduro atas serangan tersebut dikutip dari AFP.

“Keadilan! Hukuman maksimal! Dan tak ada ampun [bagi pelaku],” ancam Maduro dalam sebuah pidato di hadapan masyarakat.

Sementara itu, Jaksa Agung Tarek William Saab yang juga hadir dalam parade itu mengatakan bahwa sejumlah pihak terkait kasus tersebut akan diidentifikasi pada Senin waktu setempat. “Bakal ada hukuman kejam,” kata Saab.

Baca Juga: Lolos dari Percobaan Pembunuhan, Presiden Venezuela Minta Bantuan Trump

Saat itu, Maduro tengah berbicara tentang ekonomi Venezuela, sebelum kemudian audio tiba-tiba mati dan semua orang di podium mendongak, kaget. Kamera kemudian menyorot ke sejumlah prajurit yang mulai berlari.

“Itu adalah serangan untuk membunuh saya, mereka mencoba menghabisi saya hari ini,” katanya dalam siaran televisi negara Venezuela. “Objek terbang [drone] itu meledak di depan saya.”

Menteri Komunikasi Jorge Rodriguez mengatakan sejumlah bahan peledak ditemukan di dekat podium Maduro dan beberapa tempat lain di sepanjang pawai.

Saab turut mengatakan kepada CNN bahwa dirinya melihat sebuah drone yang bertugas merekam acara itu meledak.

Namun tidak ada satupun drone terlihat di siaran televisi. Siaran itu hanya menunjukkan para pengawal presiden melompat ke depan Maduro untuk melindunginya.

Usai kejadian tersebut, siaran televisi dihentikan. Sementara itu, seorang polisi yang tak bersedia disebutkan namanya mengatakan kepada AFP bahwa drone itu mungkin saja dilepaskan dari apartemen terdekat dari kejadian.

Polisi tersebut juga mengatakan drone lainnya sempat terbakar setelah salah satunya meledak. Namun sejumlah teori lain mengatakan api tersebut tercipta karena ledakan dari gas silinder secara tak sengaja.

Usai ledakan, Presiden Maduro menuduh Presiden Kolombia Juan Manuel Santos sebagai dalang di balik upaya pembunuhan tersebut. Selain itu, pemerintah juga menyalahkan kelompok sayap kanan yang menjadi oposisinya.

“Saya tak ada keraguan bahwa nama Juan Manuel Santos ada di balik serangan ini,” kata Maduro.

Kementerian Luar Negeri Kolombia membantah tuduhan tersebut dan mengatakan dugaan tersebut “absurd” dan “tidak berdasar”.

Tak lama kemudian, pihak pemberontak militer bernama National Movement of Soldiers in T-Shirts mengaku bertanggung jawab atas kejadian tersebut.

“Ini bertentangan dengan kehormatan militer untuk mempertahankan pemerintahan bagi mereka yang tak hanya melupakan konstitusi, tapi juga membuat pemerintahan untuk memperkaya diri sendiri,” tulis pernyataan pihak pemberontak.

Suasana ketika prajurit berhamburan melindungi Maduro kala ledakan
Mereka mengklaim bahwa kelompok tersebut berisi personel militer patriotik dan warga sipil yang setia kepada orang-orang Venezuela yang berusaha menyelamatkan demokrasi negara di bawah kediktatoran.

“Jika tujuan pemerintah adalah untuk mencapai kebahagiaan terbesar yang ada maka kami tidak dapat menoleransi kalau penduduk menderita kelaparan, orang yang sakit tak dapat obat, mata uang tak punya nilai, sistem pendidikan tak mendidik, pengajaran hanya mendoktrin komunisme,” lanjut pernyataan itu.

Print Friendly, PDF & Email